Saat azan magrib berkumandang, banyak orang langsung mencari minuman manis seperti teh manis, sirup, atau es buah untuk membatalkan puasa. Kebiasaan ini sudah lama menjadi bagian dari tradisi berbuka di banyak tempat, terutama selama bulan Ramadan.
Menurut pakar gizi dari IPB University, kecenderungan memilih makanan atau minuman manis ketika berbuka puasa sebenarnya cukup wajar. Setelah berpuasa selama belasan jam, kadar gula darah dalam tubuh biasanya mengalami penurunan.
Karena itu, tubuh membutuhkan sumber energi yang dapat diserap dengan cepat. Minuman atau makanan yang mengandung gula sering dianggap sebagai solusi praktis untuk mengembalikan energi tersebut.
Selain membantu mengembalikan energi, konsumsi gula juga dapat memberikan sensasi nyaman dan rasa puas setelah seharian menahan lapar dan haus. Hal ini terjadi karena asupan gula dan karbohidrat dapat memicu pelepasan hormon serotonin di dalam tubuh, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia dan relaksasi.
Namun demikian, meskipun minuman manis dapat memberikan efek cepat dalam memulihkan energi, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan ini perlu dikontrol agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Batas Aman Konsumsi Gula Saat Ramadan
Mengonsumsi makanan atau minuman manis sebenarnya tidak dilarang saat berbuka puasa. Namun, jumlahnya harus tetap dibatasi agar tidak melebihi kebutuhan tubuh.
Dalam pedoman gizi seimbang, gula termasuk komponen yang harus dikonsumsi secara terbatas karena berada pada bagian paling atas piramida gizi. Artinya, asupan gula tidak boleh berlebihan dalam pola makan sehari-hari.
Berdasarkan anjuran konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), batas konsumsi gula yang disarankan untuk orang dewasa adalah sekitar 50 gram per hari atau setara dengan empat sendok makan gula. Jika melebihi jumlah tersebut secara rutin, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat.
Selama Ramadan, pola makan memang berubah karena waktu makan terbatas pada saat berbuka puasa dan sahur. Namun, batas konsumsi gula tetap sebaiknya tidak jauh berbeda dengan hari biasa. Dengan kata lain, berbuka puasa bukan alasan untuk mengonsumsi minuman manis dalam jumlah besar.
Dampak Terlalu Banyak Minuman Manis Saat Berbuka
Kebiasaan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan saat berbuka dapat menimbulkan sejumlah dampak kesehatan.
Risiko Peningkatan Berat Badan
Minuman manis umumnya mengandung kalori tinggi dari gula tambahan. Jika dikonsumsi secara berlebihan setiap hari selama Ramadan, asupan energi dapat melebihi kebutuhan tubuh. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan.
Selain itu, minuman manis sering kali tidak memberikan rasa kenyang yang cukup lama. Akibatnya, seseorang tetap makan dalam jumlah besar setelahnya sehingga total kalori yang masuk menjadi lebih tinggi.
Mengganggu Pola Makan Seimbang
Minuman manis yang dikonsumsi dalam jumlah banyak juga dapat membuat perut cepat terasa penuh. Hal ini berpotensi mengurangi porsi makanan utama yang sebenarnya lebih bergizi, seperti sayur, buah, dan sumber protein.
Padahal, nutrisi tersebut sangat penting untuk menjaga stamina tubuh selama menjalani puasa.
Meningkatkan Risiko Gangguan Kesehatan
Asupan gula berlebih juga berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan. Salah satunya adalah kerusakan gigi atau karies akibat tingginya konsumsi gula.
Bagi orang dengan kondisi tertentu seperti diabetes mellitus, konsumsi gula berlebihan bahkan dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan trigliserida yang berbahaya bagi kesehatan jantung. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini juga dapat memicu gangguan pencernaan karena meningkatnya produksi asam lambung.
Pilihan Minuman yang Lebih Sehat Saat Buka Puasa
Agar tetap sehat selama Ramadan, para ahli menyarankan untuk memilih minuman yang lebih alami dan tidak terlalu banyak mengandung gula tambahan.
Air Kelapa dan Jus Buah
Air kelapa muda dapat menjadi salah satu pilihan minuman yang menyegarkan saat berbuka. Minuman ini mengandung elektrolit alami yang membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.
Selain itu, jus buah atau jus sayur juga dapat menjadi alternatif yang baik. Namun, penting untuk menghindari penambahan gula berlebihan agar manfaat kesehatannya tetap optimal.
Kurma Sebagai Pilihan Tradisional
Buah kurma juga sering direkomendasikan sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa. Selain rasanya manis alami, kurma mengandung serat dan nutrisi yang dapat membantu tubuh memulihkan energi secara lebih stabil.
Para ahli menyarankan untuk mengonsumsi kurma dalam jumlah wajar, misalnya satu hingga tiga butir saat berbuka. Dengan cara ini, kebutuhan energi dapat terpenuhi tanpa memberikan asupan gula yang terlalu tinggi bagi tubuh.