Pengawasan keamanan pangan kembali menemukan masalah serius di sejumlah pasar di Jakarta. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) masih menemukan ikan asin yang diduga mengandung formalin dalam proses inspeksi rutin.
Temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena formalin merupakan bahan kimia berbahaya yang tidak diperbolehkan digunakan dalam produk pangan.
Ikan asin sendiri merupakan salah satu bahan makanan yang sangat populer di Indonesia. Proses pengawetannya biasanya dilakukan dengan cara penggaraman dan pengeringan. Namun sebagian oknum produsen atau pedagang diduga menambahkan formalin agar ikan terlihat lebih awet dan tidak cepat rusak selama distribusi maupun penyimpanan.
Padahal penggunaan formalin dalam makanan telah dilarang oleh pemerintah karena berisiko terhadap kesehatan manusia. Zat tersebut sebenarnya lebih umum digunakan dalam dunia industri maupun laboratorium, misalnya untuk mengawetkan jaringan biologis atau spesimen penelitian.
Temuan ikan asin berformalin di pasar menunjukkan bahwa pengawasan keamanan pangan masih menjadi tantangan yang perlu diperkuat. Konsumen pun diimbau untuk lebih waspada saat membeli produk pangan, terutama yang diproduksi secara tradisional.
Apa Itu Formalin dan Mengapa Digunakan pada Ikan
Pengertian Formalin
Formalin adalah larutan yang mengandung formaldehida, suatu senyawa kimia yang bersifat sangat reaktif. Dalam bidang industri, zat ini digunakan sebagai pengawet bahan biologis, antiseptik, serta bahan baku berbagai produk kimia.
Sifat formaldehida yang mampu mengikat protein membuat jaringan menjadi lebih kaku dan tahan terhadap pembusukan. Karena itulah beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkannya sebagai pengawet makanan ilegal. Zat ini dapat memperlambat aktivitas bakteri pembusuk sehingga produk seperti ikan asin terlihat lebih awet dan tidak mudah rusak.
Alasan Penggunaan Secara Ilegal
Dalam praktiknya, formalin dipakai untuk mempertahankan tampilan ikan agar tetap keras, tidak mudah hancur, dan tahan lebih lama saat disimpan atau diangkut ke pasar. Selain itu, bahan ini juga bisa menekan pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan makanan cepat basi. Namun keuntungan ekonomi jangka pendek tersebut menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi konsumen.
Bahaya Formalin bagi Kesehatan
Paparan formalin melalui makanan dapat memberikan dampak buruk bagi tubuh, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ketika tertelan, zat ini dapat menyebabkan iritasi pada sistem pencernaan seperti mulut, tenggorokan, dan lambung.
Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain mual, sakit perut, muntah, hingga gangguan pada organ pencernaan. Pada kondisi yang lebih parah, paparan formalin juga dapat memicu kerusakan organ tubuh seperti hati, ginjal, dan sistem saraf.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa paparan formaldehida dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko kanker serta kerusakan sel tubuh. Senyawa ini bahkan dikategorikan sebagai zat karsinogenik bagi manusia oleh lembaga kesehatan internasional.
Paparan formalin dari makanan juga dapat berdampak pada saluran pencernaan, hati, dan ginjal jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jumlah tertentu. Karena risiko tersebut, penggunaan formalin dalam makanan secara tegas dilarang dalam regulasi keamanan pangan di Indonesia.
Ciri-Ciri Ikan Asin yang Diduga Mengandung Formalin
Masyarakat dapat mengenali beberapa ciri fisik ikan asin yang kemungkinan mengandung formalin. Meski tidak selalu akurat tanpa uji laboratorium, beberapa tanda berikut dapat menjadi indikasi awal.
Tekstur Terlalu Keras
Ikan asin yang mengandung formalin biasanya memiliki tekstur sangat keras dan tidak mudah hancur. Hal ini terjadi karena formaldehida bereaksi dengan protein pada jaringan ikan sehingga membuat strukturnya lebih kaku.
Bau Tidak Menyengat
Ikan asin normal umumnya memiliki aroma khas yang cukup kuat. Sebaliknya, ikan yang diberi formalin sering kali tidak memiliki bau amis yang tajam karena proses pembusukan terhambat.
Tahan Lama pada Suhu Ruang
Produk yang mengandung formalin sering terlihat tetap awet meskipun disimpan cukup lama di suhu ruang. Kondisi ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk ditekan oleh zat kimia tersebut.