Momentum Ramadan dan Idulfitri sering menjadi periode yang dinantikan oleh industri pembiayaan kendaraan di Indonesia. Tradisi perjalanan mudik dan meningkatnya aktivitas keluarga membuat kebutuhan transportasi pribadi ikut meningkat.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi perusahaan multifinance untuk meningkatkan penyaluran kredit kendaraan, terutama pada segmen mobil bekas yang dinilai lebih terjangkau oleh masyarakat.
Pada 2026, para pelaku industri melihat potensi pertumbuhan pembiayaan kendaraan bekas semakin besar menjelang Lebaran. Lonjakan kebutuhan mobilitas masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong permintaan kendaraan.
Selain itu, kondisi pasar otomotif yang masih menghadapi keterbatasan stok kendaraan baru juga turut membuat konsumen lebih mempertimbangkan mobil bekas sebagai alternatif yang ekonomis dan praktis.
Momentum Lebaran Dorong Permintaan Kendaraan
Setiap tahun, periode menjelang Lebaran biasanya memicu peningkatan pembelian kendaraan. Banyak keluarga mempersiapkan perjalanan jauh untuk pulang kampung atau berlibur bersama. Tradisi mudik sendiri melibatkan mobilitas jutaan orang yang kembali ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga.
Kebutuhan mobilitas tersebut membuat kendaraan pribadi menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat. Oleh karena itu, permintaan mobil bekas cenderung meningkat karena harganya lebih terjangkau dibandingkan mobil baru. Selain itu, proses pembelian mobil bekas juga relatif lebih cepat sehingga cocok bagi masyarakat yang membutuhkan kendaraan dalam waktu dekat.
Para pelaku industri pembiayaan memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan berbagai skema kredit kendaraan. Mereka menilai Lebaran merupakan salah satu periode yang mampu meningkatkan volume pembiayaan kendaraan secara signifikan setiap tahunnya.
Mobil Bekas Menjadi Pilihan Konsumen
Harga Lebih Terjangkau
Salah satu alasan utama masyarakat memilih mobil bekas adalah faktor harga. Kendaraan bekas umumnya memiliki nilai jual yang lebih rendah dibandingkan mobil baru, sehingga lebih sesuai dengan kemampuan finansial sebagian konsumen.
Tren ini bahkan semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan mobil bekas disebut terus meningkat setelah pandemi karena banyak konsumen yang mencari kendaraan dengan biaya lebih efisien. Rasio penjualan mobil bekas juga tercatat lebih besar dibandingkan mobil baru di pasar otomotif nasional.
Selain harga yang lebih murah, mobil bekas juga menawarkan variasi model yang lebih beragam. Konsumen dapat memilih berbagai tipe kendaraan dengan spesifikasi yang sesuai kebutuhan tanpa harus menunggu waktu produksi seperti pada mobil baru.
Dukungan Pembiayaan Multifinance
Perusahaan multifinance memainkan peran penting dalam mempermudah masyarakat memperoleh kendaraan. Sebagian besar transaksi pembelian mobil bekas di Indonesia dilakukan melalui skema kredit, sehingga pembiayaan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan pasar ini.
Data industri menunjukkan bahwa penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat oleh multifinance mencapai ratusan triliun rupiah pada awal 2026. Angka tersebut mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan kendaraan.
Dengan dukungan pembiayaan yang fleksibel, konsumen dapat membeli kendaraan tanpa harus membayar secara tunai. Hal ini tentu membantu meningkatkan daya beli sekaligus memperluas pasar mobil bekas di Indonesia.
Tantangan yang Dihadapi Industri Pembiayaan
Risiko Kredit dan Selektivitas
Meski peluang pertumbuhan cukup besar, perusahaan multifinance tetap berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan kendaraan bekas. Salah satu alasan utamanya adalah risiko kredit yang masih menjadi perhatian dalam industri pembiayaan.
Beberapa lembaga pembiayaan masih melakukan seleksi ketat terhadap calon debitur untuk menjaga kualitas portofolio kredit. Risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membuat perusahaan harus menilai kemampuan pembayaran konsumen secara lebih cermat.
Selain itu, penilaian terhadap kondisi kendaraan bekas juga menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan mobil baru yang memiliki standar produksi yang jelas, mobil bekas memerlukan pemeriksaan lebih detail untuk memastikan kualitas dan kelayakannya.
Ketidakpastian Ekonomi Global
Faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global juga dapat memengaruhi industri pembiayaan. Ketidakpastian ekonomi berpotensi memicu kenaikan suku bunga yang pada akhirnya berdampak pada biaya kredit kendaraan.
Jika suku bunga meningkat, cicilan kredit kendaraan bisa menjadi lebih mahal bagi konsumen. Kondisi tersebut dapat menekan permintaan pembiayaan kendaraan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan terus memantau perkembangan ekonomi global agar dapat menyesuaikan strategi bisnisnya.