Dunia kuliner Indonesia baru-baru ini kembali diramaikan oleh temuan menarik berupa buku resep masakan dari tahun 1866. Buku tua tersebut memuat ratusan resep yang berasal dari masa Hindia Belanda dan kini menjadi bahan pembicaraan luas di media sosial. Menariknya, sejumlah hidangan yang tercantum di dalamnya masih sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga sekarang.
Buku ini ditemukan melalui penelusuran arsip digital di perpustakaan Universitas Leiden. Penemuan tersebut bermula ketika seorang kreator konten kuliner menelusuri dokumen lama menggunakan kata kunci yang merujuk pada wilayah Hindia Timur. Dari proses riset itu, ia menemukan buku resep berbahasa Belanda yang berisi ratusan catatan masakan dari masa kolonial.
Temuan tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial dan dengan cepat menarik perhatian warganet. Banyak orang merasa takjub karena sejumlah menu yang tercatat di dalam buku tersebut ternyata masih populer dan sering ditemui dalam dapur keluarga Indonesia saat ini.
Fenomena ini tidak hanya menarik bagi penggemar kuliner, tetapi juga bagi peneliti sejarah makanan. Buku tersebut dianggap sebagai dokumen penting yang menggambarkan bagaimana tradisi memasak di Nusantara berkembang sejak lebih dari satu setengah abad lalu.
Ragam Resep Klasik yang Masih Dikenal
Salah satu hal yang membuat buku resep ini viral adalah daftar hidangan yang tercantum di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah makanan yang hingga kini masih sangat familiar bagi masyarakat Indonesia.
Dalam buku tersebut terdapat berbagai menu seperti rawon, sambal udang, sambal goreng telur, perkedel ikan, hingga sate khas Betawi. Keberadaan resep-resep ini menunjukkan bahwa sejumlah hidangan Nusantara telah dikenal sejak masa kolonial dan terus bertahan hingga generasi modern.
Namun tidak semua menu terdengar akrab. Ada juga hidangan yang kini jarang ditemukan atau bahkan hampir terlupakan. Contohnya sambal brandal, ayam asem garem, waterkoeskjes, hingga kare Portugis. Menu-menu ini memperlihatkan keberagaman pengaruh budaya dalam kuliner Hindia Belanda.
Perbedaan lain juga terlihat dari cara penulisan resep. Pada masa itu, takaran bahan tidak dituliskan secara presisi seperti sekarang. Banyak resep hanya menyebutkan bahan dan langkah memasak secara umum tanpa ukuran gram atau mililiter. Hal ini menunjukkan bahwa memasak saat itu lebih mengandalkan pengalaman dan insting juru masak.
Perpaduan Budaya dalam Dapur Hindia Belanda
Buku resep tersebut juga mencerminkan proses percampuran budaya yang terjadi di dapur-dapur rumah tangga kolonial. Pada masa Hindia Belanda, keluarga Eropa yang tinggal di Nusantara sering mempekerjakan juru masak pribumi.
Situasi ini menciptakan interaksi budaya yang unik. Para koki lokal memasak menggunakan bahan dan rempah Nusantara, sementara teknik memasak atau penyajian kadang dipengaruhi tradisi Eropa. Hasilnya adalah gaya kuliner yang dikenal sebagai Indische keuken atau dapur Indis.
Perpaduan tersebut melahirkan berbagai hidangan yang memiliki karakter campuran antara Eropa dan Indonesia. Beberapa resep bahkan mengalami penyesuaian dengan selera lokal sehingga akhirnya menjadi bagian dari tradisi kuliner Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga cerminan interaksi sosial dan budaya di suatu masa. Banyak hidangan yang lahir dari masa kolonial justru bertahan hingga sekarang karena berhasil beradaptasi dengan lidah masyarakat lokal.
Upaya Menghidupkan Kembali Resep Lama
Setelah buku resep ini ditemukan, muncul upaya untuk mencoba kembali beberapa hidangan yang tertulis di dalamnya. Beberapa kreator kuliner mulai bereksperimen memasak ulang resep-resep tersebut untuk melihat seperti apa rasa makanan pada masa itu.
Proses memasak ulang ini tidak selalu mudah. Selain karena bahasa resep menggunakan istilah lama, beberapa bahan juga sulit ditemukan atau telah mengalami perubahan nama. Meski demikian, eksperimen ini justru membuka peluang baru untuk mengenal kembali warisan kuliner dari masa lampau.
Bagi sebagian orang, melihat kembali resep lama tersebut memunculkan rasa nostalgia. Beberapa warganet bahkan mengaku bahwa masakan dalam buku tersebut sangat mirip dengan makanan yang biasa dimasak oleh orang tua atau nenek mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa sejumlah resep dari masa kolonial ternyata telah diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga Indonesia tanpa banyak perubahan.