Perjalanan Fajri Hidayatullah dari Tunanetra hingga Menjadi Tim Ahli Staf Khusus Menteri

Perjalanan Fajri Hidayatullah dari Tunanetra hingga Menjadi Tim Ahli Staf Khusus Menteri

Perjalanan hidup seseorang sering kali tidak berjalan mulus. Namun bagi sebagian orang, keterbatasan justru menjadi titik awal untuk membuktikan kemampuan.

Hal ini tercermin dari kisah Fajri Hidayatullah, seorang penyandang disabilitas tuna netra yang berhasil menorehkan prestasi hingga dipercaya menjadi tim ahli staf khusus menteri di bidang manajemen, kelembagaan, dan reformasi birokrasi.

Perjalanan Fajri tidak instan. Ia melewati berbagai tantangan sejak masa kecil hingga akhirnya mampu berkontribusi di level kebijakan nasional. Kisahnya menunjukkan bahwa pendidikan, ketekunan, dan keberanian melawan stigma sosial dapat membuka peluang yang sebelumnya tampak mustahil.

Masa Kecil yang Dipenuhi Keterbatasan

Tujuh Tahun Tanpa Sekolah

Fajri berasal dari Sumatera Selatan dan sejak kecil hidup dengan keterbatasan penglihatan. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah akses pendidikan. Pada masa itu, fasilitas dan sistem pendidikan bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas di daerahnya.

Akibat kondisi tersebut, Fajri sempat menjalani masa tujuh tahun hanya belajar di rumah tanpa mengenyam pendidikan formal. Situasi ini terjadi karena pilihan sekolah yang tersedia tidak mampu mengakomodasi kebutuhan siswa dengan disabilitas netra. Selain itu, program pendidikan alternatif seperti ujian kesetaraan juga belum tersedia secara luas.

Masa tersebut menjadi periode refleksi bagi Fajri. Ia harus menerima kenyataan bahwa jalan menuju pendidikan tidak mudah. Namun di tengah keterbatasan itu, ia tetap memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan.

Keputusan Merantau ke Jakarta

Tahun 2011 menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Dengan tekad besar, Fajri memutuskan pindah ke Jakarta untuk mencari kesempatan belajar yang lebih baik.

Perjalanan ini tidak sepenuhnya mudah. Ia sempat mengalami penolakan ketika mencoba mendaftar di sekolah di wilayah Jakarta Timur. Pada masa itu, regulasi tentang hak pendidikan bagi penyandang disabilitas belum sekuat sekarang.

Baca juga:  Angka Pernikahan Menurun di Indonesia, Generasi Muda Lebih Mengutamakan Pendidikan dan Karier

Namun Fajri tidak menyerah. Ia melakukan advokasi secara mandiri agar dapat diterima di sekolah tersebut. Usahanya akhirnya berhasil dan ia pun mendapatkan kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan formal.

Menempuh Pendidikan Tinggi dengan Tekad Kuat

Memilih Jurusan yang Tidak Biasa

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Fajri melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan mengambil program studi Ilmu Politik.

Keputusan ini sempat menimbulkan keraguan dari berbagai pihak. Pada saat itu, hampir tidak ada contoh mahasiswa tuna netra yang menempuh studi di bidang tersebut. Beberapa orang bahkan menyarankan agar ia pindah ke jurusan lain yang dianggap lebih sesuai.

Pertanyaan seperti “apakah tidak ingin pindah jurusan?” kerap ia dengar. Namun Fajri memilih menjawab keraguan itu dengan prestasi akademik. Pada semester awal, ia mampu meraih indeks prestasi di atas 3,0 sehingga keraguan tersebut perlahan menghilang.

Lulus Cepat dan Melanjutkan Studi Magister

Kesungguhan Fajri dalam belajar membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan studi sarjananya hanya dalam waktu tiga tahun dua bulan, sebuah pencapaian yang cukup cepat.

Prestasi tersebut membuat pihak kampus mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia kemudian melanjutkan studi S2 di bidang administrasi dan berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Pendidikan menjadi fondasi penting bagi Fajri untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat perannya dalam advokasi isu disabilitas.

Berperan dalam Advokasi dan Kebijakan Publik

Aktif Mengangkat Isu Disabilitas

Setelah menyelesaikan pendidikan, Fajri tidak berhenti pada pencapaian akademik saja. Ia aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan advokasi hak penyandang disabilitas, khususnya di bidang pendidikan.

Ia kerap menyuarakan pentingnya identifikasi dini terhadap kebutuhan anak berkebutuhan khusus agar proses pendidikan dapat disesuaikan sejak awal. Dengan pendekatan tersebut, potensi anak-anak disabilitas dapat berkembang lebih optimal.

Baca juga:  Fenomena Baru Literasi Digital, Mengapa Generasi Z Justru Semakin Gemar Membaca?

Bagi Fajri, advokasi bukan sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi juga memastikan bahwa sistem pendidikan mampu memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang.

Dipercaya Menjadi Tim Ahli Staf Khusus Menteri

Perjalanan panjang tersebut akhirnya mengantarkan Fajri ke posisi strategis. Ia dipercaya menjadi tim ahli staf khusus menteri di bidang manajemen, kelembagaan, dan reformasi birokrasi di Kementerian Pendidikan.

Penunjukan ini menjadi simbol penting bahwa penyandang disabilitas juga mampu berperan dalam proses pengambilan kebijakan di tingkat nasional. Kehadirannya di lingkar pemerintahan juga memberi perspektif baru mengenai kebutuhan dan hak penyandang disabilitas.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Kisah Fajri Hidayatullah menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai prestasi. Dengan tekad, pendidikan, dan keberanian menghadapi stigma, seseorang dapat membuka jalan menuju peluang yang lebih luas.

Ia juga terus mendorong generasi muda, terutama penyandang disabilitas, agar tidak berhenti bermimpi dan berjuang. Menurutnya, selama seseorang memiliki tekad kuat, peluang untuk meraih keberhasilan akan selalu ada.

error: Content is protected !!
Share via