Film animasi Jumbo terus menunjukkan performa yang cukup stabil di pasar internasional, khususnya di Korea Selatan. Meskipun jumlah penonton mulai melambat dibandingkan awal penayangannya, film produksi Indonesia tersebut tetap mampu mempertahankan kehadirannya di bioskop Negeri Ginseng hingga awal Maret 2026.
Capaian ini dianggap sebagai pencapaian penting bagi industri film animasi Indonesia. Pasar Korea Selatan dikenal memiliki persaingan ketat dengan dominasi produksi lokal serta film Hollywood. Dalam kondisi tersebut, kehadiran film animasi dari Indonesia yang mampu bertahan cukup lama di layar bioskop menjadi indikasi bahwa karya lokal mulai mendapat perhatian di luar negeri.
Sejak pertama kali dirilis di Korea Selatan pada Februari 2026, film ini langsung menarik minat penonton dan masuk dalam daftar box office harian. Pencapaian tersebut menandai langkah penting bagi film Indonesia untuk menembus pasar Asia Timur yang terkenal selektif terhadap film asing.
Awal Penayangan yang Menarik Perhatian
Masuk Jajaran Box Office Harian
Pada masa awal penayangannya, Jumbo berhasil masuk dalam sepuluh besar box office harian di Korea Selatan. Bahkan, film animasi ini sempat menduduki posisi keenam dalam daftar tersebut menurut data dari Korean Film Council melalui sistem KoBiz.
Prestasi ini cukup mengejutkan karena film animasi asal Indonesia jarang mendapat eksposur besar di pasar Korea Selatan. Di hari-hari awal penayangan, film tersebut mampu mengumpulkan ribuan penonton dan bersaing dengan berbagai film lokal yang memiliki basis penggemar kuat.
Keberhasilan tersebut juga menunjukkan bahwa cerita dan pendekatan visual dari animasi Indonesia mulai mampu menarik perhatian audiens internasional.
Pendapatan dan Jumlah Penonton
Pada hari pertama penayangannya saja, film ini berhasil menghasilkan pendapatan sekitar 89 ribu dolar AS. Angka tersebut setara dengan lebih dari Rp1 miliar dan langsung menempatkan film ini di papan atas box office harian.
Seiring berjalannya waktu, total jumlah penonton film ini di Korea Selatan terus bertambah. Dalam dua pekan penayangan, film tersebut berhasil melewati angka 50 ribu penonton, sebuah capaian yang cukup signifikan bagi film asing non-Hollywood.
Meski demikian, seperti halnya film lain, performa penonton secara alami mulai melandai setelah melewati fase awal rilis.
Tren Penonton Mulai Menurun
Kompetisi Film Baru
Penurunan jumlah penonton sebagian besar dipengaruhi oleh masuknya film-film baru di bioskop Korea Selatan. Setiap pekan, berbagai judul baru dirilis sehingga persaingan di layar bioskop semakin ketat.
Dalam kondisi seperti ini, film yang telah tayang beberapa minggu biasanya akan mengalami penurunan jumlah penonton harian. Hal tersebut juga terjadi pada Jumbo, yang perlahan kehilangan momentum awalnya.
Meski demikian, film ini masih mampu menarik ratusan hingga ribuan penonton per hari di sejumlah layar bioskop. Keberadaan film tersebut yang tetap diputar menunjukkan bahwa minat penonton masih ada, meskipun tidak sebesar saat awal penayangan.
Puncak Performa Penayangan
Selama masa penayangannya, film ini sempat mencatat puncak jumlah penonton harian lebih dari 9.000 orang pada salah satu hari di akhir Februari 2026.
Angka tersebut menjadi salah satu titik tertinggi dalam perjalanan film ini di pasar Korea Selatan. Setelah periode tersebut, grafik penonton mulai menurun secara bertahap, tetapi masih stabil dibandingkan beberapa film asing lainnya.
Dampak bagi Industri Animasi Indonesia
Bukti Daya Saing di Pasar Global
Keberhasilan Jumbo menembus pasar Korea Selatan memberikan sinyal positif bagi industri animasi Indonesia. Selama ini, film animasi lokal sering kali dianggap sulit bersaing di pasar internasional.
Namun keberhasilan film ini membuktikan bahwa karya animasi Indonesia memiliki potensi untuk diterima oleh penonton global jika dikemas dengan cerita yang kuat dan kualitas produksi yang baik.
Film ini sendiri disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diproduksi oleh Visinema Studios. Ceritanya mengikuti perjalanan seorang anak bernama Don yang berusaha membuktikan dirinya melalui sebuah pertunjukan bakat setelah sering diremehkan oleh lingkungan sekitarnya.
Kisah tersebut dianggap memiliki pesan universal sehingga mudah dipahami oleh penonton dari berbagai negara.
Membuka Peluang Distribusi Internasional
Capaian film ini di Korea Selatan juga dapat membuka peluang distribusi internasional yang lebih luas bagi film animasi Indonesia. Dengan adanya contoh nyata bahwa film lokal dapat menarik penonton di luar negeri, produser dan distributor memiliki dasar yang lebih kuat untuk memasarkan karya mereka ke pasar global.
Ke depan, kesuksesan ini diharapkan mendorong lebih banyak investasi dalam industri animasi nasional. Selain meningkatkan kualitas produksi, langkah tersebut juga dapat memperluas jangkauan cerita lokal Indonesia agar dikenal oleh penonton internasional.