Legenda sekaligus mantan pelatih Xavi Hernandez akhirnya membuka cerita yang selama ini jarang terdengar mengenai situasi internal FC Barcelona. Dalam sebuah wawancara terbaru, ia membeberkan sejumlah keputusan manajemen yang menurutnya menghambat perkembangan tim saat dirinya masih menjabat sebagai pelatih.
Xavi menyebut bahwa perbedaan visi antara staf pelatih dan pihak manajemen menjadi salah satu penyebab utama munculnya konflik di balik layar. Ia merasa banyak rencana olahraga yang disusunnya tidak mendapat dukungan penuh dari petinggi klub.
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya memengaruhi stabilitas tim, tetapi juga berdampak pada atmosfer ruang ganti. Bahkan, ia menilai beberapa kebijakan manajemen secara tidak langsung merusak kepercayaan antara pelatih dan pemain.
Situasi tersebut semakin menjadi sorotan publik karena terjadi di tengah periode yang cukup sensitif bagi Barcelona, terutama menjelang dinamika politik internal klub dan berbagai perubahan struktur organisasi.
Penolakan Transfer Martin Zubimendi
Rencana Mengganti Sergio Busquets
Salah satu isu utama yang diungkap Xavi berkaitan dengan kegagalannya merekrut gelandang yang ia anggap ideal untuk menggantikan Sergio Busquets. Ketika Busquets bersiap meninggalkan Barcelona, Xavi telah mengusulkan nama Martin Zubimendi sebagai target utama.
Saat itu, Zubimendi masih bermain di Real Sociedad dan dikenal sebagai salah satu gelandang bertahan paling konsisten di La Liga. Xavi menilai gaya bermainnya sangat cocok dengan filosofi permainan Barcelona.
Namun, permintaan tersebut tidak mendapat persetujuan dari manajemen klub. Pihak klub menyatakan bahwa kondisi finansial Barcelona membuat transfer tersebut tidak memungkinkan untuk direalisasikan.
Zubimendi Justru Bersinar di Arsenal
Ironisnya, pemain yang sempat diincar Barcelona tersebut akhirnya berlabuh di Arsenal FC. Di klub London tersebut, Zubimendi berkembang menjadi salah satu pilar penting di lini tengah.
Hal ini semakin memperkuat keyakinan Xavi bahwa keputusan menolak transfer tersebut merupakan kesalahan strategis. Ia merasa bahwa jika transfer itu terjadi, Barcelona mungkin bisa memiliki fondasi lini tengah yang lebih stabil setelah kepergian Busquets. Kegagalan transfer ini juga dianggap sebagai simbol dari perbedaan pendekatan antara pelatih dan manajemen klub.
Kisah Pengkhianatan dalam Proses Pergantian Pelatih
Negosiasi Diam-diam dengan Hansi Flick
Xavi juga mengungkap momen yang menurutnya paling mengecewakan selama berada di Barcelona. Ia mengetahui bahwa pihak klub ternyata telah menjalin komunikasi dengan calon pelatih baru tanpa sepengetahuannya.
Sosok yang dimaksud adalah Hansi Flick, yang kemudian diproyeksikan menjadi penerusnya di kursi pelatih Barcelona. Menurut Xavi, proses komunikasi tersebut terjadi ketika dirinya masih menjabat secara resmi sebagai pelatih.
Situasi tersebut menciptakan ketegangan besar karena ia merasa tidak diberi informasi yang transparan oleh pihak klub. Meski demikian, Xavi menegaskan bahwa hubungannya dengan Flick tetap baik.
Permintaan Maaf dari Flick
Dalam kisah yang cukup menarik, Flick bahkan disebut datang langsung ke rumah Xavi untuk meminta maaf atas situasi yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa dirinya diminta oleh klub untuk tidak mengungkapkan proses negosiasi tersebut.
Pertemuan tersebut berlangsung cukup lama dan berlangsung dalam suasana yang terbuka. Dari situ, Xavi menyimpulkan bahwa persoalan sebenarnya bukan terletak pada Flick, melainkan pada cara manajemen menangani transisi pelatih.
Dugaan Kampanye Negatif di Ruang Ganti
Selain masalah transfer dan pergantian pelatih, Xavi juga menyinggung adanya upaya yang ia anggap sebagai kampanye yang merusak reputasinya di dalam tim.
Ia menilai beberapa informasi yang beredar kepada para pemain tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan, beberapa pemain disebut sempat percaya bahwa Xavi ingin menjual mereka dari klub. Beberapa nama penting di skuad Barcelona, termasuk Pedri dan Ronald Araujo, disebut sempat terkena dampak dari rumor tersebut.
Sergi Roberto Sempat Meragukan Masa Depannya
Salah satu contoh nyata dari situasi tersebut adalah pengalaman Sergi Roberto. Sang kapten tim bahkan pernah menanyakan langsung kepada Xavi apakah ia masih diinginkan di Barcelona.
Padahal, menurut Xavi, ia justru menjadi salah satu pihak yang paling mendorong klub untuk memperpanjang kontrak Sergi Roberto. Perbedaan informasi yang beredar inilah yang membuat hubungan di dalam tim menjadi tidak stabil. Bagi Xavi, kejadian ini menunjukkan bahwa komunikasi internal klub tidak berjalan dengan baik.