Isu mengenai kemungkinan kembalinya Lionel Messi ke FC Barcelona sebenarnya sempat menjadi pembicaraan serius pada tahun 2023. Setelah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, pemain yang telah lama menjadi ikon klub Catalan itu disebut tertarik untuk kembali bermain di Camp Nou.
Menurut pengakuan mantan pelatih Barcelona, Xavi Hernández, komunikasi dengan Messi berlangsung selama beberapa bulan. Ia menghubungi mantan rekan setimnya tersebut pada awal 2023 dan mendapatkan respons positif. Messi bahkan disebut sangat antusias dengan kemungkinan menjalani “musim perpisahan” di klub yang membesarkan namanya.
Pada tahap tertentu, proses pembicaraan mengenai transfer tersebut dianggap hampir mencapai kesepakatan. Hal ini memunculkan harapan besar bagi para pendukung Barcelona yang ingin melihat sang legenda kembali mengenakan seragam Blaugrana.
Namun rencana tersebut akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan. Messi justru melanjutkan kariernya di Amerika Serikat bersama Inter Miami.
Xavi Menuduh Laporta Menghentikan Transfer
Klaim keputusan presiden klub
Dalam sebuah wawancara yang cukup mengejutkan, Xavi menyatakan bahwa penyebab utama gagalnya transfer tersebut bukanlah masalah finansial atau regulasi liga. Ia menuding bahwa keputusan datang langsung dari presiden klub, Joan Laporta.
Menurut Xavi, Laporta tidak menginginkan Messi kembali ke Barcelona karena khawatir akan muncul konflik kekuasaan di dalam klub. Bahkan Xavi mengklaim bahwa presiden Barcelona sempat menyampaikan kekhawatiran bahwa kembalinya Messi dapat memicu “perang pengaruh” di internal manajemen tim.
Xavi juga membantah anggapan bahwa kegagalan transfer disebabkan oleh batas gaji atau kondisi finansial klub. Ia menilai alasan tersebut hanya dijadikan pembenaran untuk menutupi keputusan yang sebenarnya.
Pernyataan ini langsung memicu kontroversi di kalangan penggemar sepak bola, karena sebelumnya banyak pihak percaya bahwa masalah finansial menjadi faktor utama Barcelona tidak bisa merekrut kembali Messi.
Dampak terhadap hubungan di dalam klub
Pengungkapan tersebut turut memengaruhi hubungan antara Xavi dan manajemen Barcelona. Dalam wawancara yang sama, ia menyebut bahwa proses pengambilan keputusan di klub tidak selalu transparan.
Xavi bahkan menyinggung adanya sosok berpengaruh di belakang layar yang memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah klub. Ia menyebut nama Alejandro Echevarria sebagai figur yang memiliki pengaruh signifikan terhadap berbagai keputusan penting, termasuk soal masa depannya sebagai pelatih.
Situasi ini menunjukkan adanya dinamika internal yang cukup kompleks di dalam organisasi Barcelona selama beberapa tahun terakhir.
Alasan Pemecatan Xavi dari Barcelona
Penjelasan dari pihak Laporta
Sementara itu, Laporta memiliki pandangan yang berbeda mengenai situasi tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan memecat Xavi tidak berkaitan dengan konflik pribadi, melainkan murni karena pertimbangan performa tim.
Menurut Laporta, Barcelona mengalami penurunan performa yang mengkhawatirkan pada periode terakhir kepelatihan Xavi. Oleh karena itu, manajemen klub merasa perlu mengambil langkah tegas untuk menjaga masa depan tim.
Ia juga menyatakan bahwa perubahan pelatih merupakan keputusan strategis yang diambil demi meningkatkan daya saing Barcelona di level domestik maupun Eropa.
Laporta bahkan menilai bahwa skuad yang sebelumnya dianggap bermasalah oleh Xavi sebenarnya tetap memiliki kualitas untuk bersaing jika dikelola dengan pendekatan berbeda.
Perbedaan narasi yang memicu polemik
Perbedaan pernyataan antara Xavi dan Laporta membuat kisah di balik kegagalan transfer Messi semakin kontroversial. Xavi menilai keputusan presiden klub sebagai faktor utama, sementara Laporta menyiratkan bahwa situasinya jauh lebih kompleks.
Perdebatan ini juga terjadi di tengah dinamika politik internal klub, termasuk menjelang pemilihan presiden Barcelona. Beberapa pihak menilai bahwa pengungkapan Xavi dapat memengaruhi opini publik terhadap kepemimpinan Laporta.
Di sisi lain, banyak penggemar Barcelona masih berharap suatu saat Messi dapat kembali ke Camp Nou, setidaknya untuk mendapatkan perpisahan yang layak dengan klub yang telah ia bela selama lebih dari dua dekade.